logika aneh ala fotografer
judul di atas merupakan penggambaran jujur dari diri saya dengan semakin terjerumusnya saya ke kegemaran akan fotografi. semakin lama belajar fotografi, semakin banyak saya temukan cara-cara berlogika yang aneh di dunia pencitraan ini. bahkan, dalam keadaan ekstrim, saya kadang-kadang berkesimpulan bahwa cara berfikir para fotografer pun menjadi ikut-ikutan aneh. mudah-mudahan ini tidak terjadi, khususnya pada anggota fn yang tercinta.
kita mulai saja dengan olok-olok tentang anak sekolah yang sedang belajar berhitung atau matematika. tidak cuma sekali kita mendengarkan wejangan seperti ini: “jangan tanyakan hasil penghitungan 3 x 4 pada tukang foto, nanti dijawab hasilnya 750!†saya rasa, inilah kesan saya yang pertama tentang cara pikir fotografer yang terpatri sejak saya kecil.
pada awalnya saya cuma tersenyum mendengar olok-olok di atas. namun, belakangan dahi saya makin berkerut setelah saya semakin banyak menemukan logika-logika yang terasa aneh yang senantiasa diamini para fotografer sampai saat ini.
contoh pertama keanehan selain olok-olok di atas adalah penjabaran bagaimana bukaan lensa (diafragma/aperture) diukur. coba simak ini, jika diafragma disetel ke angka kecil, berarti bukaan lensanya besar. sebaliknya, jika diafragma disetel ke angka besar, berarti bukaan lensanya kecil. cara berfikir seperti ini adalah pembalikan dari kelaziman yang selama ini beredar di tengah-tengah masyarakat non-fotografer.
contoh keanehan kedua adalah menyangkut panjang fokus (focal length) dalam kaitannya dengan sudut pandang yang ditangkap lensa. jika ingin sudut pandang lebar, pakailah lensa dengan panjang fokus kecil. sebaliknya, lensa dengan panjang fokus besar, akan menghasilkan sudut pandang yang sempit. aneh ‘kan?
berkenaan dengan pencahayaan (exposure), kebingungan bertambah dengan logika pikir fotografi yang menyebutkan bahwa peningkatan dan penurunan pencahayaan bisa didapat dengan menaikkan atau menurunkan ukuran sebanyak 1-stop, 2 -top, dan stop-stop-an lainnya. simak ini, turunkuan diafragma sebanyak 1 stop dari 4.0 menjadi 5.6! jadi, penurunan 1-stop dari angka 4.0 tidak menghasilkan angka 3.0, tapi justru angka 5.6! cara pikir macam mana ini?
simak pula keanehan logika dari panduan yang saya dapatkan dari pak gunadi haryanto (walaupun sama-sama bernama belakang haryanto, kemampuan kami berdua ibarat anyer dan panarukan, jauh banget!). seingat saya, beliau menyampaikan hal seperti ini: jika pencahayaan kurang atau under exposure, hasil foto akan menjadi terlalu gelap, atau disebut sebagai foto yang terlalu mentah. jika pencahayaan berlebih atau over exposure, hasilnya adalah foto yang terlalu terang atau gosong. foto yang bagus adalah foto yang pencahayaannya matang, tidak mentah dan tidak gosong. coba simak lagi, foto terlalu gelap malah disebut mentah, sedangkan foto terlalu terang malah disebut gosong! ini sungguh beda sekali dengan alur fikir yang selama ini dianut para penjual kue serabi! jika kulit serabi terlihat terang, berarti serabi masih mentah, dan jika kulit serabi sudah terlalu gelap berarti serabi tersebut gosong. begitu bukan?
berikutnya, contoh logika aneh yang juga bikin bingung orang yang memikirkannya adalah perihal format film (atau klise). ada film yang disebut format 35mm, padahal ukuran lebar kali panjang dari film tersebut adalah: 24mm x 36mm. penasaran, saya pun mencoba mengukur diameternya, ternyata 43mm. penasaran juga, saya kalikan panjang kali lebarnya, 24 x 36, hasilnya 864mm. panjang ditambah lebar, hasilnya 60mm. panjang kali lebar dibagi 2, hasilnya 30mm. jadi, dari manakah angka 35mm ini? pikiran makin bingung sewaktu mendapatkan kenyataan bahwa format film tersebut pun juga dikenal dengan format 135!
keanehan logika fotografi makin menjadi-jadi tatkala kita belajar tentang suhu warna yang diukur dengan satuan derajat kelvin (bukan kelvin costner, lo). coba lihat saja: suhu warna saat matahari terbit adalah sekitar 4000-an (kurang or lebih dikit nggak masalah ‘kan?), suhu warna pada cuaca tengah hari disebut-sebut berada di kisaran 5000 sampai 7000-an, dan suhu warna pada saat matahari terbenam adalah 3000-an. anehnya, suhu warna pada tengah hari (7000-an) berkorelasi dengan warna-warna kebiruan yang dinobatkan sebagai warna dingin, sedangkan suhu matahari terbit or terbenam yang kelvin-nya lebih rendah (3000-4000) dikaitkan dengan warna-warni merah kekuningan yang ditahbiskan sebagai warna-warna hangat. hwarakadah!
tidak hanya sampai di sini, keganjilan fotografi pun merambah juga pada hasil karya aktifitas ini, yaitu berupa film negatif, yang kalau diterawang akan menampilkan gambar dengan warna-warni dan gelap-terang yang berbalik 180 derajat dari aslinya! betul-betul deh, yang namanya logika fotografi adalah logika aneh, terbolak-balik, tidak mengikuti kaidah umum, dan seenaknya sendiri.
namun, akhir dari semua itu, keindahan dan kesan mendalam jualah yang terlahir dari dunia fotografi. foto-foto yang dibuat dengan semangat estetika yang tinggi akan memicu detak kekaguman di jantung pemirsanya, sedangkan foto-foto yang diambil pada situasi-situasi dramatis akan menorehkan kesan yang amat mendalam di sanubari orang yang melihatnya. foto-foto keluarga yang dibuat secara sekedarnya pun, paling tidak akan menjadi kenangan bagi keluarga yang memilikinya.
walhasil, untuk bisa menjadi sebuah karya yang indah, kadang kita harus melalui logika-logika yang aneh
betul??
Latest Comments
windy, windy, windy, B45Y, B45Y [...]
arul, arul
barkaw, tiffany, Rey, chuby, lhybherni [...]
dgannnnnzzzzzzzzzz, turuk wangi...., komtil, paijo, paijo [...]
Dina, gaga, Lita, briezha, frozi [...]