Archive for August, 2007

28
Aug

buat bapak saja

Darsono, Wardi, Sugeng dan Jono janjian mengadakan reuni di Restoran yang ada tempat Karaokenya. Sambil makan, mereka berempat ber-bincang2 sambil bernostalgia. Setelah makan Darsono pamit meninggalkan teman2nya sebentar untuk nyanyi karaoke, “Minta lagu apa Rek? Dangdut?”

Sambil mendengarkan Darsono nyanyi, teman2nya melanjutkan obrolan mereka. “Bagaimana anak anakmu Geng?” tanya Wardi ke Sugeng.

Sugeng bercerita: “Oo, baik2 saja, anak saya kan dua. Yang cewek ikut suaminya jadi Kapolres di Medan. Sedangkan yang cowok sudah jadi boss, pabriknya dua, pabrik sepatu dan pabrik mie. Tapi ya gitu…, saya yang jadi bapaknya saja ndak pernah dibelikan motor sama sekali, eeeh… pas kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan BMW 318i gress.”

“Lha kalau anakmu War?” Wardi pun bercerita, “Anakku dua kerja di Amerika, yang bonthot sekarang sudah jadi direktur developer rumah. Tapi agak gendeng juga anak saya yang bonthot ini. Rumah bapaknya sudah doyong dibiarkan aja, tapi waktu kemarin pacarnya ulang tahun di belikan rumah baru.”

“Kalau kabar anakmu bagaimana Jon?” Sekarang Jono yang cerita, “Anak saya empat, cowok satu, cewek tiga. Sekarang sudah pada mandiri. Yang paling sukses ya anakku yang cowok. Sekarang jadi pialang saham. Cuman ya agak nggak bener juga. Lha… saya ini nggak pernah di kasih uang sama sekali, tapi kemarin waktu pacarnya ulang tahun di kasih deposito 100 juta.”

Setelah Jono cerita, Darsono selesai karaoke, “Nyritain apa sih Rek?”. “Ini lho Dar, pada nyritain anaknya, gimana anakmu Dar?” tanya Jono. Setelah nyalain rokok, Darsono mulai cerita: “Anakku cuma satu, tapi payah. Aku ingin dia jadi ABRI, eeeh malah jadi bencong. Sudah lima tahun dia buka salon, dari dulu sampek sekarang ya teteeep aja nyalon. Tapi meskipun bencong dia tetep anak ku. Apalagi dasarnya anaknya itu baik, pergaulannya luas dan sayang sama bapaknya.

Setiap dapat rejeki saya pasti diberi. Kemarin pas dia ulang tahun, ada temannya yang ngado BMW 318i gress, rumah baru, dan deposito 100 juta. Dia bilang semua itu buat bapak saja, dia tetep seneng buka salon saja, katanya.

09
Aug

gempa

sedang di kantor …
lagi nungguin program tmi … damn pilkada dki … huh …

jam 00:15 … duduk sendiri di ruang kaca … agak sedikit aneh … kok goyang yach ???
memang, sebelumnya heineken 2 botol … tapi itu kan udah 1 jam lalu !!!
aneh, masih berlanjut … makin goyang dan makin kencang …

yap, gempa …

anak2 diluar juga bilang gempa … tapi agak sangsi … soalnya kgk ada benda yang goyang … martoz bilang, “mungkin gara2 heineken” … tidak ada benda yang menggantung di dalam ruangan … kata kang wawan, “coba liat air, kalo gempa pasti goyang” … liat kedalam gelas … damn … air-nya kering … semua air di gelas kering …

tenyata di lorong lobby ada kepanikan … orang-orang operator pada panik … g teriak aje, “tenang-tenang, kgk ada apa2 … cuma halusinasi aja …” …

tak berapa lama kemudian, telp 2774 bunyi … ais yg angkat …
ternyata tio telp, cuma tanya internet aman apa kgk ??? soalnya anak2 yg tugas di ochannel pada kabur turun keluar ruangan semua … wakakakakakakaka

g coba telp di ngkong, ternyata dia masih ada di lantai 9 … dia cuma sendirian … chatmate tetep jalan, tapi video clip terus … wakakaka … g bilang, “gmana sich chatmate kgk ada host-nya” … ngkong bilang, “semua-nya pada kabur, turun ke bawah !!! cuma g sendirian di atas” … g tanya, “trus kgk ada yg edit ???” … ngkong bilang, “kgk ada, anak buah elu pada kabur ke bawah … g bilang, “ya udah, kan cuma ada elu yg diatas, yach udah sekalian bantu edit sms aje !!!” …

wakakak … malam yang menarik …

04
Aug

udah lama

ugh … udah lama nda deg-deg-an …
yap … kmrn abis dapet jaga di puteri indonesia 2007 …

puteri indonesia 2007

jam 6 udah stand by di jcc, meski kehadang macet gara2 ada kampanye pilkada … ugh …
deg-deg-an-nya double …
21:07 => live telekuis kado 17 tahun, 1st episode … thx tio udah bantu jagain :-D
21:13 => live puteri indonesia 2007

jalan-jalan, sempet …
motret, kgk bawa kamera and kgk sempet … secara harus nongkrong di mobil obivan, untung dingin :D

03
Aug

TV Ritualism vs TV Rating

televisionTelevisi bagai anak pertama dalam keluarga, serba menjadi pusat perhatian. (Garin Nugroho)

Pernahkah anda menyalakan tv tapi tidak sepenuhnya menaruh perhatian pada kotak ajaib tersebut? Kalau iya, berarti anda telah melakukan suatu ritual bersama tv, yang menurut Effendi Gazali (Kompas, 29/09/06) disebut sebagai tv ritualism.

Tv dinyalakan hanya karena ritual untuk menjadikannya sebagai “teman”, teman ketika kita berkumpul bersama anggota keluarga, atau teman ketika seorang mahasiswa sibuk mengetik tugas kuliah, tv sebagai pembunuh sepi. Tv yang berada pada posisi “on” disambi untuk melakukan aktivitas lain, sehingga beberapa aktivitas itu berjalan tumpang tindih.

Aktivitas menonton tv telah bergeser menjadi hanya mendengarkan tv. Apa yang selama ini menjadi kelebihan dari radio telah diserobot oleh tv. Radio yang hanya menyajikan suara adalah media yang ideal ketika kita melakukan aktivitas lainnya: seorang pembantu yang sedang mensetrika pakaian biasanya akan tambah bersemangat ketika mendengar tembang kesayangannya diputar di radio, tentu tanpa harus meninggalkan aktivitas mensetrika tadi.

Atau ketika seseorang menyetir mobil, radio bisa menjadi teman selama berkendara. Namun perlahan, tv juga menjadi media yang hanya didengarkan, sesaat kita menghentikan aktivitas inti lalu sesekali melongok tv ketika ada acara atau berita yang menarik, setelahnya kita kembali hanya mendengarkan tv.

Mendengarkan tv menjadi pilihan baru ketika kita tak rela untuk mematikan tv, karena sejatinya menonton tv tidak bisa “diganggu” atau dibarengi aktivitas lain. Meskipun sekarang banyak yang pasang tv mungil di dalam mobil, apa iya sampeyan bakal nyetir nyambi nonton tv?

Tv ritualism sebenarnya adalah satu hal yang (mungkin) luput dari sorotan perusahaan penyaji rating semacam Nielsen Media Research. Sehingga hasil rating yang disajikan kepada stasiun tv dan pengiklan tersebut tak lebih dari sekedar ragged data dengan tingkat representasi yang tidak lagi akurat.

Riset khalayak televisi atau television audience measurement dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan. Dari cara sederhana seperti wawancara harian yang dilakukan oleh periset, lalu berkembang dengan metode buku harian (diary chip) yang bisa mensurvei perilaku sampel setiap minggunya, hingga metode canggih yang dikenal dengan peoplemeter.

Peoplemeter dikatakan canggih karena bisa mengukur secara real time. Alat ini tersambung dengan televisi di rumah responden dan sistem pencatatannya terhubung ke pusat penerimaan dan pengolahan data di perusahaan rating.

Pada alat ini terdapat beberapa tombol, masing-masing audience mendapat “jatah” satu tombol, seperti tombol untuk ayah, ibu, anak, bahkan pembantu. Setiap kali menonton, responden harus menekan tombol (check in) dan setelah menonton juga harus menekan tombol lagi (check out).

Meskipun canggih, bukan berarti alat ini tanpa kelemahan sama sekali. Aktivitas pencet-pencet tombol peoplemeter bisa menjadikan responden menjadi fatigue. Belum lagi kalau misalnya responden melakukan check in lalu harus menerima telpon untuk waktu yang lumayan lama tanpa melakukan check out.

Atau ketika responden melakukan check in lalu dia tertidur di depan tv, sementara peoplemeter terus berjalan. Kelemahan lain, saat dalam satu keluarga hanya ada satu pesawat televisi, sementara yang “menguasai” televisi hanya satu orang saja, misalnya si ibu berkuasa karena dia yang pegang remote control dan peoplemeter sehingga leluasa menonton sinetron Intan, padahal si bapak sebenarnya kepengen nonton Liputan 6, sedangkan si anak pengen nonton Spongebob. Si bapak dan anak terpaksa ikut-ikutan nonton Intan, dan tak punya kuasa untuk memilih program acara maupun memencet peoplemeter.

Dalam hal ini, aktivitas menerima telepon, tertidur di depan tv, maupun si bapak dan anak yang pasrah tadi bisa dikategorikan dalam tv ritualism. Kalau sudah begitu, rating yang selama ini “disembah” oleh stasiun tv dan pengiklan tak selamanya bisa menjabarkan realita dari keseluruhan pemirsa tv. Apalagi tv ritualism dan bias-bias lainnya selama pengukuran seolah terabaikan begitu saja.

Liverpool Jumpa Chelsea