21
Mar
06

logika aneh ala fotografer

tri haryanto menulis di forum fotografer.net

logika aneh ala fotografer

judul di atas merupakan penggambaran jujur dari diri saya dengan semakin terjerumusnya saya ke kegemaran akan fotografi. semakin lama belajar fotografi, semakin banyak saya temukan cara-cara berlogika yang aneh di dunia pencitraan ini. bahkan, dalam keadaan ekstrim, saya kadang-kadang berkesimpulan bahwa cara berfikir para fotografer pun menjadi ikut-ikutan aneh. mudah-mudahan ini tidak terjadi, khususnya pada anggota fn yang tercinta.

kita mulai saja dengan olok-olok tentang anak sekolah yang sedang belajar berhitung atau matematika. tidak cuma sekali kita mendengarkan wejangan seperti ini: “jangan tanyakan hasil penghitungan 3 x 4 pada tukang foto, nanti dijawab hasilnya 750!” saya rasa, inilah kesan saya yang pertama tentang cara pikir fotografer yang terpatri sejak saya kecil.

pada awalnya saya cuma tersenyum mendengar olok-olok di atas. namun, belakangan dahi saya makin berkerut setelah saya semakin banyak menemukan logika-logika yang terasa aneh yang senantiasa diamini para fotografer sampai saat ini.

contoh pertama keanehan selain olok-olok di atas adalah penjabaran bagaimana bukaan lensa (diafragma/aperture) diukur. coba simak ini, jika diafragma disetel ke angka kecil, berarti bukaan lensanya besar. sebaliknya, jika diafragma disetel ke angka besar, berarti bukaan lensanya kecil. cara berfikir seperti ini adalah pembalikan dari kelaziman yang selama ini beredar di tengah-tengah masyarakat non-fotografer.

contoh keanehan kedua adalah menyangkut panjang fokus (focal length) dalam kaitannya dengan sudut pandang yang ditangkap lensa. jika ingin sudut pandang lebar, pakailah lensa dengan panjang fokus kecil. sebaliknya, lensa dengan panjang fokus besar, akan menghasilkan sudut pandang yang sempit. aneh ‘kan?

berkenaan dengan pencahayaan (exposure), kebingungan bertambah dengan logika pikir fotografi yang menyebutkan bahwa peningkatan dan penurunan pencahayaan bisa didapat dengan menaikkan atau menurunkan ukuran sebanyak 1-stop, 2 -top, dan stop-stop-an lainnya. simak ini, turunkuan diafragma sebanyak 1 stop dari 4.0 menjadi 5.6! jadi, penurunan 1-stop dari angka 4.0 tidak menghasilkan angka 3.0, tapi justru angka 5.6! cara pikir macam mana ini?

simak pula keanehan logika dari panduan yang saya dapatkan dari pak gunadi haryanto (walaupun sama-sama bernama belakang haryanto, kemampuan kami berdua ibarat anyer dan panarukan, jauh banget!). seingat saya, beliau menyampaikan hal seperti ini: jika pencahayaan kurang atau under exposure, hasil foto akan menjadi terlalu gelap, atau disebut sebagai foto yang terlalu mentah. jika pencahayaan berlebih atau over exposure, hasilnya adalah foto yang terlalu terang atau gosong. foto yang bagus adalah foto yang pencahayaannya matang, tidak mentah dan tidak gosong. coba simak lagi, foto terlalu gelap malah disebut mentah, sedangkan foto terlalu terang malah disebut gosong! ini sungguh beda sekali dengan alur fikir yang selama ini dianut para penjual kue serabi! jika kulit serabi terlihat terang, berarti serabi masih mentah, dan jika kulit serabi sudah terlalu gelap berarti serabi tersebut gosong. begitu bukan?

berikutnya, contoh logika aneh yang juga bikin bingung orang yang memikirkannya adalah perihal format film (atau klise). ada film yang disebut format 35mm, padahal ukuran lebar kali panjang dari film tersebut adalah: 24mm x 36mm. penasaran, saya pun mencoba mengukur diameternya, ternyata 43mm. penasaran juga, saya kalikan panjang kali lebarnya, 24 x 36, hasilnya 864mm. panjang ditambah lebar, hasilnya 60mm. panjang kali lebar dibagi 2, hasilnya 30mm. jadi, dari manakah angka 35mm ini? pikiran makin bingung sewaktu mendapatkan kenyataan bahwa format film tersebut pun juga dikenal dengan format 135!

keanehan logika fotografi makin menjadi-jadi tatkala kita belajar tentang suhu warna yang diukur dengan satuan derajat kelvin (bukan kelvin costner, lo). coba lihat saja: suhu warna saat matahari terbit adalah sekitar 4000-an (kurang or lebih dikit nggak masalah ‘kan?), suhu warna pada cuaca tengah hari disebut-sebut berada di kisaran 5000 sampai 7000-an, dan suhu warna pada saat matahari terbenam adalah 3000-an. anehnya, suhu warna pada tengah hari (7000-an) berkorelasi dengan warna-warna kebiruan yang dinobatkan sebagai warna dingin, sedangkan suhu matahari terbit or terbenam yang kelvin-nya lebih rendah (3000-4000) dikaitkan dengan warna-warni merah kekuningan yang ditahbiskan sebagai warna-warna hangat. hwarakadah!

tidak hanya sampai di sini, keganjilan fotografi pun merambah juga pada hasil karya aktifitas ini, yaitu berupa film negatif, yang kalau diterawang akan menampilkan gambar dengan warna-warni dan gelap-terang yang berbalik 180 derajat dari aslinya! betul-betul deh, yang namanya logika fotografi adalah logika aneh, terbolak-balik, tidak mengikuti kaidah umum, dan seenaknya sendiri.

namun, akhir dari semua itu, keindahan dan kesan mendalam jualah yang terlahir dari dunia fotografi. foto-foto yang dibuat dengan semangat estetika yang tinggi akan memicu detak kekaguman di jantung pemirsanya, sedangkan foto-foto yang diambil pada situasi-situasi dramatis akan menorehkan kesan yang amat mendalam di sanubari orang yang melihatnya. foto-foto keluarga yang dibuat secara sekedarnya pun, paling tidak akan menjadi kenangan bagi keluarga yang memilikinya.

walhasil, untuk bisa menjadi sebuah karya yang indah, kadang kita harus melalui logika-logika yang aneh
betul??


lalu di reply oleh imp. winartho, win:

kesimpulannya?
fotografi = ilmu unik (kata aneh sedikit berbau negatif)
fotografer = orang unik

kalau keduanya berkolaborasi, menjadi ilmu unik yang dipelajari orang-orang unik, untuk hasil karya seunik ‘maesto class’.

…semoga hanya sebuah kesimpulan unik.

lalu di reply oleh sentot hary koesworo:

udah lama aku ngerasain ini….tapi…baru ini ada yang ngungkapinnya…

tambah lagi…logika terbaliknya fotografer…

kadang - kadang ada foto yang oe &/ ue &/ shake dan atau out of focus… namun tetep aja itu diakui oleh si fotografer itu sendiri sebagai karya seni… yang menurut-nya karya seni lebih tinggi karena telah menembus batasan - batasan teknik….

lalu direply oleh bayu adhitya:

1 lagi logika aneh: seorang teman saya yang pelukis menganggap lukisannya sukses kalau hasilnya sudah seperti.. foto! sebaliknya di fn banyak foto2 yang dipuji karena hasilnya seperti lukisan..

lalu direply oleh raya ragingga tetopati:

bila motret model yang rada nude, maka sukanya telenya dipanjangin…

berselurus dengan “…” yang memanjang…

eh ini ga terbalik ya… maap maap maap jadi oot nih…

lalu direply oleh salahudin damar jaya, jaya:

mas harianto, sebenarnya jika kita belajar fotografi dengan baik dan benar maka yang disebut lagika aneh tsb tidaklah sesuatu yang ajaib, semua bisa diterangkan dengan logika lurus :

1. penulisan diafragma yang benar adalah f/x dengan nilai x adalah 1,4 2 2,8 4 dst, jadi jika suatu pecahan dengan nilai penyebut semakin besar maka anak sd kelas 3 akan tahu bahwa nilainya semakin kecil, begutu juga pada kecepatan yang bebar penulisannya adalah 1 1/2 1/4 1/8 1/15 dst tapi dengan alasan kepraktisan jadi cuma ditulis 1 2 4 8 dst

2. dari ilmu trigonometri kita ketahui jika suatu segitiga denagn nilai sumbu x semakin besar sedang nilai sumbu y tetap maka sudup alpha akan semakin kecil, ket : sumbu x adalah panjang fokus lensa, sudut alpha adalah sudut pandang lensa, jadi saya bingung logika mana yang dibalik

3. nilai stop adalah nilai banyaknya cahaya yang masuk sebanyak 2 kali lipatnya dalam hal ini untuk diafragma adalah besar kecil bukaan yang hubungannya dengan luas permukaan, sedangkan nilai diafragma adalah didapat dari f/=panjang fokus/diameter bukaan maka dengan matematika sederhana kita akan dapatnya nilai diafragma itu berbanding dari akar (2) yang besarnya = 1,414 (di bulatkan jadi 1,4 sehingga nilai diafragma adalah 1,4 lalu 1,4 x 1,4 = 2 lalu 2 x 1,4 = 2,8 lalu 2,8 x 1,4 = 4 dst, kalo nggak percaya cek aja dari 1,4 sampai 32 dan kalo matematikanya kelipatan 1,4 tidak percaya buka saja link ini

4. fotografi berkembang awalnya dari memakai film negatif, jadi film gosong (over) memang di negatif memang gelap sekali alias gosong…. sedangkan kalo under memang terang alias mentah… jadi tidak ada yang aneh bukan???

untuk 5 dan 6 nanti saya kan teruskan….


1 Response to “logika aneh ala fotografer”


Leave a Reply